Pusaka Mitrajasa Express

Jasa Kirim Barang Via Kereta-Api

Dry port di Jawa Barat diaktifkan lagi

Posted by pusakamitrajasa on 04/12/2009

Pemerintah memprioritaskan pengaktifan kembali sejumlah pelabuhan darat (dry port) di Jawa Barat untuk menghindari penumpukan barang di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta.

Wakil Menhub Bambang Susantono mengatakan sejumlah dry port itu yakni Terminal Peti Kemas Bandung (TPKB) Gede Bage dan pelabuhan darat di Jababeka Cikarang.

“Itu masuk dalam prioritas kendati tidak masuk dalam program 100 hari [Kabinet Indonesia Bersatu II],” katanya hari ini.

Pada pekan depan, menurut dia, pihaknya bersama Departemen Pekerjaan Umum akan bertemu dengan tujuh pengelola kawasan industri di Cikarang guna mengaktifkan kembali dry port di Cikarang.

Bambang menambahkan pertemuan itu akan merumuskan nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) baru menggantikan MoU lama yang telah dibuat pelaku usaha di kawasan itu.

“Mereka kan sebelumnya sudah punya MoU untuk mengaktifkan kembali. Nah, akan kami kaji ulang semua itu sehingga dibuat MoU baru yang akan lebih merefleksikan jalur nya nanti seperti apa,” ujar dia.

Pada 2011, arus kontainer di Pelabuhan Tanjung Priok akan mencapai sebanyak 930 unit kontainer per jam, sementara daya tampungnya kini hanya 600 kontainer. Dengan kondisi itu, pemerintah memandang perlu pengaktifan di dry port di luar Tanjung Priok.

Bambang melanjutkan pihaknya mendorong PT Kereta Api (KA) selaku pengelola TPKB Gede Bage mereposisi bisnis kawasan itu untuk mendongkrak kinerja arus barang ekspor-impor di kawasan itu.

Dia menyatakan pihaknya meminta PTKA merombak manajemen TPKB Gede Bage dengan menyesuaikan dengan permintaan pasar di daerah Bandung dan sekitarnya.

Bambang menegaskan dry port Gede Bage telah memiliki fasilitas yang memadai untuk melayani barang ekspor-impor dari kawasan itu hingga Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta.

Dry port Gede Bage juga telah ditetapkan pemerintah untuk menghindari penumpukan barang di Pelabuhan Tanjung Priok, akibat menunggu rampungnya pengecekan kepabeanan di pelabuhan itu.

“Untuk itu, operator harusnya market oriented. Karena saya melihat volume barangnya tidak berbeda dengan kondisi sepuluh tahun lalu bahkan turun,” tegas Bambang.

Bambang menilai manajemen dry prot Gede Bage kini belum memiliki pola pemasaran yang baik dibuktikan dengan ketidakjelasan jumlah sales yang telah dilakukan dalam beberapa bulan terakhir. “Mereka tidak peka dengan pekerjaannya. Seharusnya ditengah tuntutan pasar yang berubah, mereka harus melakukan strategi jemput bola.”

Selama 2008, volume angkutan barang ekspor dan impor di Gede Bage hanya sebanyak 10.847 TEUs. Angka tersebut jauh dibawah arus barang pada 2000 yang mencapai 48.520 TEUs.

Bambang mengakui penurunan kinerja saat ini juga dipengaruhi belum terhubungnya rel KA antara Stasiun Pasoso dan dermaga PT Jakarta International Container Terminal (JICT) sekitar 2 kilometer.

Namun, pemerintah menjamin penyambungan rel KA akan selesai dalam waktu dekat setelah pembebasan lahan antara Stasiun Pasoso ke JICT.

Bambang menyatakan pertemuan pembebasan lahan sudah dilakukan dua kali. Diharapkan pada pertemuan ketiga sudah didapat titik temu. “Nantinya kereta api diharapkan bisa jadi alternatif angkutan darat, sehingga mengurangi beban jalan raya,” papar Bambang.

Sumber: Bisnis.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: